Morphology??
Hai, welcome back to my blog... 😊
In this post, i will share you what i know about one branches of linguistics, that is "Morphology". Before i wrote this blog i've searched some sources about Morphology. I choose this branch because i really interesred in that meaning and how it works. Maybe you will think like me after read this post :)
so, let we see together... 👀👇
1.
Pengertian
Morfologi
Morfologi
mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk
kata terhadap golongan dan arti kata. Dapat pula dikatakan bahwa morfologi
mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk
kata itu, baik fungsi gramatikal maupun fungsi semantik.
Dalam ilmu morfologi, terdapat morfem yaitu bagian terkecil dari sebuah kata yang tidak dapat dibagi lagi namun masih
tetap memiliki makna.
Morfem
dapat dibagi menjadi dua yaitu morfem bebas (free morpheme), yaitu
morfem yang dapat berdiri sendiri tanpa adanya penambahan morfem lain, atau
dengan kata lain morfem ini menjadi satuan kata sendiri, misalnya kata tas, di, pergi
dan cantik dalam bahasa Indonesia, atau dalam bahasa Inggris ada kata
seperti book, on, wash dan fast. Morfem yang kedua
adalah morfem yang tidak dapat berdiri sendiri tanpa direkatkan pada morfem
lain, atau disebut morfem terikat (bound morpheme). Bentuk ini sering
disebut sebagai afiks karena morfem ini bukanlah kata akan tetapi merupakan
bagian dari kata, sebagai contoh, morfem me-, di-, pe-an,
atau dalam bahasa Inggris ada morfem -ify, il-, dan en-.
Dalam ilmu
kebahasaan atau linguistik, kata dikaji dalam cabang linguistik yang disebut
morfologi (morphology). Menurut Aronoff dan Fudeman (2005:1), istilah morfologi
pada umumnya dikaitkan dengan seorang penyair, novelis, dramawan, dan
filsuf berkebangsaan Jerman yang bernama Johann Wolfgang von Goethe
(1749-1832). Dia menggunakan istilah ini pada awal abad ke-19 dalam konteks
biologi.
Secara etimologis,
istilah morfologi berasal dari kata morph- dalam bahasa Yunani
yang berarti “bentuk‟. Dalam bahasa Inggris, morfem morph- “bentuk‟
digabungkan dengan morfem –logy “ilmu, kajian‟ membentuk kata morphology
yang berarti ‘ilmu atau kajian yang mempelajari bentuk‟.
Dalam ilmu
linguistik istilah morfologi (morphology) dipakai untuk menyebut
sistem mental yang terlibat dalam pembentukan kata atau cabang ilmu linguistik
yang berkenaan dengan kata, struktur internal kata, dan bagaimana kata tersebut
dibentuk.
Kata yang menjadi objek kajian morfologi
adalah kata kompleks (complex words), yaitu kata yang secara morfologis
terbentuk dari dua morfem atau lebih (polimorphemic) sehingga membentuk
makna yang lebih kompleks (Plag, 2003:10).
Misalnya:
a. enmployee
= karyawan
inventor
= penemu
unhappy
= sedih
teacher = guru
sadness
= kesedihan
b. chair
= kursi
ball = bola
clever = pandai
sad = sedih
Kata-kata
pada (a) termasuk ke dalam kata kompleks karena masing-masing terbentuk dari
dua morfem. Misalnya, kata employee “karyawan” terbentuk dari verba employ
“memperkerjakan” dan
akhiran –ee “pihak yang dipekerjakan”. Demikian juga kata unhappy “sedih”
terbentuk dari adjektiva happy “senang” dan akhiran un- “tidak”.
Sedangkan kata-kata pada (b) tidak mengalami proses morfologis, karena
masing-masing hanya terbentuk dari satu morfem (monomorphemic).
Secara umum
kata-kata yang ada dalam bahasa Inggris dibentuk secara infleksional atau
derivasional.
Morfologi infleksional berkenaan dengan proses
pembentukan kata secara infleksional (inflection), sedangkan morfologi
leksikal atau sering disebut dengan pembentukan kata (word formation)
berkenaan dengan proses pembentukan kata secara derivasional (derivation)
atau pemajemukan (compounding).
Menurut
Aronoff dan Fudeman (2005:45), perbedaan yang mendasar antara proses morfologi
infleksional dan derivasional adalah bahwa proses infleksional tidak
mengakibatkan perubahan makna kata, sedangkan proses derivasional mengakibatkan
perubahan makna kata.
Misalnya,
a. write = writes, wrote, writing, written
b. write = writer
Proses
morfologis yang terjadi pada contoh (a) merupakan proses infleksional, karena
perubahan dari kata write menjadi writes, wrote, writing, written tidak
ada perubahan makna kata antara kata write dengan writes, wrote,
writing, written. Kata write, writes, wrote, writing, dan written
memiliki makna yang sama yaitu “menulis‟. Mereka hanyalah bentuk kata yang
berbeda dari kata WRITE. Sebaliknya, proses morfologis yang terjadi pada contoh
(b) mengakibatkan perubahan makna kata antara kata write “menulis” dan
kata writer “penulis”. Proses ini juga mengakibatkan perubahan kategori kata
write (verba) menjadi kata writer (nomina).
Perbedaan
Antara Morfologi Infleksional Dan Morfologi Derivasional
Aronoff dan
Fudeman (2005:160-162) menjelaskan beberapa perbedaan antara morfologi
infleksional dan morfologi derivasional sebagai berikut:
1. Morfologi
infleksional tidak mengubah makna kata dasarnya (input), sebaliknya
morfologi derivasional mengubah makna kata dasarnya (input) dan
memungkinkan terjadinya perubahan kategori bentuk dasar (input) dan kata
jadiannya (output)
Contoh
Proses Morfologi Infleksional dan Derivasional
Afiksasi
|
Input
|
Output
|
Proses
Morfologi
|
Afiks
|
Makna
|
Bentuk
dasar
|
Makna
kata
|
Kategori
kata
|
Kata
setelahnya
|
Makna
kata
|
Kategori
kata
|
-s
|
Jamak
|
Book
|
Buku (tunggal)
|
nomina
|
books
|
Buku (jamak)
|
Nomina
|
Infleksi
|
-let
|
Ukuran kecil
|
Book
|
Buku
|
nomina
|
booklet
|
Buku kecil
|
Nomina
|
Derifasi
|
-er
|
pelaku
|
Book
|
Memesan
|
verba
|
booker
|
Pemesan
|
Nomina
|
Derifasi
|
Pada contoh di
atas, penambahan afiks –s “jamak” pada kata book “buku (tunggal)”
yang membentuk kata books “buku (jamak)” tidak mengakibatkan perubahan
makna kata dan kategori bentuk dasar. Sebaliknya, penambahan afiks –let “ukuran
kecil” pada kata book “buku” yang menghasilkan kata baru booklet “buku
kecil” mengubah makna kata dasarnya, meskipun tidak terjadi perubahan kategori kata.
Demikian juga penambahan afiks –er “pelaku” pada verba book “memesan” selain mengubah makna kata,
bentuk dasarnya juga mengubah kategori kata dasarnya dari verba menjadi nomina booker
“pemesan”.
2. Proses
morfologis infleksional ditentukan oleh kondisi sintaktik (sesuai gramatikal
atau tata bahasa), sedangkan proses morfologis derivasional tidak.
Misalnya:
a. The students
always perform their dancing in front of their parents.
b. The student
always performs his/her dancing in front of his/her parents.
c. The students performed
their dancing in front of their parents last week.
d. perform (V) =
performance (N)
Pada contoh (a–c)
verba perform, performs, performed “mempertunjukkan” dipilih dalam
kalimat tersebut karena pertimbangan gramatikal dalam bahasa Inggris, yaitu:
1. Apabila pelaku verba adalah orang ketiga jamak dalam present tense,
maka verba tersebut berbentuk verba dasar perform.
2. Apabila pelaku verba adalah orang ketiga tunggal dalam present
tense, maka verba tersebut berbentuk verba dasar plus afiks –s/es,
performs.
3. Apabila verba
dinyatakan dalam past tense, maka verba tersebut berbentuk verba dasar pluss
sufiks –ed, performed.
Pertimbangan
sintaktik atau aturan gramatikal tersebut tidak berlaku pada pembentukan nomina
performance “pertunjukan” dari verba perform “mempertunjukkan”,
seperti pada contoh (d)
3. Morfologi
infleksional cenderung lebih produktif daripada morfologi derivasional.
Misalnya, afiks
infleksional –s/es “jamak” dapat dipakai untuk menjamakkan nomina
apapun, kecuali nomina tak beraturan (irregular nouns) yang memiliki
bentuk jamak sendiri. Sebaliknya, tidak semua adjektiva dapat digabungkan
dengan afiks –ly “secara” untuk membentuk adverbia.
A. bag
= bags
box
= boxes
child
= children
B. slow
= slowly
quick
= quickly
clever
= cleverly
good
= goodly
4. Afiks
derivasional cenderung lebih dekat dengan akar kata atau dasar daripada afiks
infleksional.
B.
Proses Morfologi
Proses
morfologik\ ialah
proses pembentukan kata – kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya.
Dalam Bahasa Indonesia terdapat tiga proses morfologik, ialah proses pembubuhan
afiks (afiksasi), proses pengulangan (reduplikasi), dan proses pemajemukan
(pemajemukan).
Macam – macam Proses
Morfologi
1. Proses Pembubuhan Afiks (afiksasi)
Afiksasi
merupakan nama lain dari morfem terikat. Morfem terikat merupakan kata yang
tidak dapat berdiri sendiri. Kata dasar dapat berupa kata benda, kata sifat,
kata kerja, dll. Penggabungan morfem bebas dan morfem terikat akan membentuk
kata jadian.
Afiksasi terdiri atas:
a. prefiks (ber-, me-, pe-, per-, di-, ter-, ke-, se-
b. sufiks (–kan, –an, –i),
c. infiks (–el-, -em-, -er-),
d. konfiks (ber-kan, ber-an, per-kan, per-an, per-i, pe-an, di-kan, di-i, me-kan, me-i, ter-kan, ter-i, ke-an), dan
e. simulfiks (memper-kan, memper-i, diper-kan, diper-i).
2. Komposisi atau Pemajemukan dalam Bahasa
Indonesia
Komposisi adalah proses kata pemajemukan. Kata
majemuk ialah gabungan kata dasar yang telah bersenyawa atau yang sudah
membentuk satu kesatuan dan menimbulkan arti baru (Alisjahbana, 1953).
Contoh : Keras+kepala = keras kepala
Kamar+mandi = kamar mandi
Mata+pelajaran = mata pelajaran
Kumis+kucing = kumis kucing
Kumis kucing dalam arti ‘sejenis tanaman’
adalah kata majemuk, tetapi kumis kucing dalam arti ‘kumis dari seekor kucing’
bukanlah kata majemuk. Pokok
kata (tidak bisa diartikan jika sendiri), tetapi setelah bergabung kemudian
mempunyai arti sendiri disebut pemajemukan.
3.
Pengulangan (Reduplikasi)
Pengulangan
atau redupliksai adalah pengulangan satuan gramatik, baik seluruh, maupun
sebagian, baik variasi fonem maupun tidak, hasil pengulangan itu merupakan kata
ulang, sedangkan satuan yang diulang merupakan bentuk dasar. Misalnya, rumah –
rumah dari bentuk
dasar rumah.
Setiap
kata ulang sudah pasti memilki bentuk dasar. Kata-kata seperti sia-sia, mondar-mandir dll., tidak dapat digolongkan kata ulang
karena sebenarnya tidak ada satuan yang diulang. dari deretan morfologik dapat
ditentukan bahwa sesungguhnya tidak ada satuan yang lebih kecil dari kata-kata
tersebut.
C.
kesimpulan
dari
penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa morphology adalah bagian dari
linguistik yang mempelajari semua hal mengenai KATA baik itu bentuk awal dan
maknanya atau bentuk kata yang telah diubah (ditambah atau dikurang) dari kata
dasarnya dan bagaimana perubahan makna kata tersebut. Sehingga saya
menyimpulkan bahwa morphology adalah ilmu bermain demgan kata-kata.
sources:
Jurnal morfologi
derivasional dalam bahasa inggris oleh Sunardi
Okay guys... sekian informasi yang dapat saya berikan semoga bermanfaat buat kita semua.
Thank you for visiting my blog, and don't forget leave your "jejak" 👣 down below :)
Bye bye... 👋👋