Wednesday, 18 December 2019

About Morphology

Morphology In Linguistics


Saturday, 19 October 2019

What is Morphology




 Morphology??


Hai, welcome back to my blog... 😊 
In this post, i will share you what i know about one branches of linguistics, that is "Morphology". Before i wrote this blog i've searched some sources about Morphology. I choose this branch because i really interesred in that meaning and how it works. Maybe you will think like me after read this post :)
so, let we see together... 👀👇 

1.      Pengertian Morfologi

Morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata. Dapat pula dikatakan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatikal maupun fungsi semantik. Dalam ilmu morfologi, terdapat morfem yaitu bagian terkecil dari sebuah kata yang tidak dapat dibagi lagi namun masih tetap memiliki makna. 

Morfem dapat dibagi menjadi dua yaitu morfem bebas (free morpheme), yaitu morfem yang dapat berdiri sendiri tanpa adanya penambahan morfem lain, atau dengan kata lain morfem ini menjadi satuan kata sendiri, misalnya kata tas, di, pergi dan cantik dalam bahasa Indonesia, atau dalam bahasa Inggris ada kata seperti book, on, wash dan fast. Morfem yang kedua adalah morfem yang tidak dapat berdiri sendiri tanpa direkatkan pada morfem lain, atau disebut morfem terikat (bound morpheme). Bentuk ini sering disebut sebagai afiks karena morfem ini bukanlah kata akan tetapi merupakan bagian dari kata, sebagai contoh, morfem me-, di-, pe-an, atau dalam bahasa Inggris ada morfem -ify, il-, dan en-.

Dalam ilmu kebahasaan atau linguistik, kata dikaji dalam cabang linguistik yang disebut morfologi (morphology). Menurut Aronoff dan Fudeman (2005:1), istilah morfologi pada umumnya dikaitkan dengan seorang penyair, novelis, dramawan, dan filsuf berkebangsaan Jerman yang bernama Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832). Dia menggunakan istilah ini pada awal abad ke-19 dalam konteks biologi.
Secara etimologis, istilah morfologi berasal dari kata morph- dalam bahasa Yunani yang berarti “bentuk‟. Dalam bahasa Inggris, morfem morph- “bentuk‟ digabungkan dengan morfem –logy “ilmu, kajian‟ membentuk kata morphology yang berarti ‘ilmu atau kajian yang mempelajari bentuk‟.
Dalam ilmu linguistik istilah morfologi (morphology) dipakai untuk menyebut sistem mental yang terlibat dalam pembentukan kata atau cabang ilmu linguistik yang berkenaan dengan kata, struktur internal kata, dan bagaimana kata tersebut dibentuk.

Kata yang menjadi objek kajian morfologi adalah kata kompleks (complex words), yaitu kata yang secara morfologis terbentuk dari dua morfem atau lebih (polimorphemic) sehingga membentuk makna yang lebih kompleks (Plag, 2003:10).
Misalnya:

    a. enmployee  = karyawan    
inventor           = penemu      
unhappy          = sedih        
teacher             = guru 
sadness            = kesedihan 

b. chair = kursi
ball       = bola      
clever   = pandai
sad        = sedih


        
Kata-kata pada (a) termasuk ke dalam kata kompleks karena masing-masing terbentuk dari dua morfem. Misalnya, kata employee “karyawan” terbentuk dari verba employ memperkerjakan” dan akhiran –ee “pihak yang dipekerjakan”. Demikian juga kata unhappy “sedih” terbentuk dari adjektiva happy “senang” dan akhiran un- “tidak”. Sedangkan kata-kata pada (b) tidak mengalami proses morfologis, karena masing-masing hanya terbentuk dari satu morfem (monomorphemic).


Secara umum kata-kata yang ada dalam bahasa Inggris dibentuk secara infleksional atau derivasional.

 Morfologi infleksional berkenaan dengan proses pembentukan kata secara infleksional (inflection), sedangkan morfologi leksikal atau sering disebut dengan pembentukan kata (word formation) berkenaan dengan proses pembentukan kata secara derivasional (derivation) atau pemajemukan (compounding).
Menurut Aronoff dan Fudeman (2005:45), perbedaan yang mendasar antara proses morfologi infleksional dan derivasional adalah bahwa proses infleksional tidak mengakibatkan perubahan makna kata, sedangkan proses derivasional mengakibatkan perubahan makna kata.
Misalnya,
a. write =  writes, wrote, writing, written
b. write = writer

Proses morfologis yang terjadi pada contoh (a) merupakan proses infleksional, karena perubahan dari kata write menjadi writes, wrote, writing, written tidak ada perubahan makna kata antara kata write dengan writes, wrote, writing, written. Kata write, writes, wrote, writing, dan written memiliki makna yang sama yaitu “menulis‟. Mereka hanyalah bentuk kata yang berbeda dari kata WRITE. Sebaliknya, proses morfologis yang terjadi pada contoh (b) mengakibatkan perubahan makna kata antara kata write “menulis” dan kata writer “penulis”. Proses ini juga mengakibatkan perubahan kategori kata write (verba) menjadi kata writer (nomina).

Perbedaan Antara Morfologi Infleksional Dan Morfologi Derivasional
Aronoff dan Fudeman (2005:160-162) menjelaskan beberapa perbedaan antara morfologi infleksional dan morfologi derivasional sebagai berikut:
1. Morfologi infleksional tidak mengubah makna kata dasarnya (input), sebaliknya morfologi derivasional mengubah makna kata dasarnya (input) dan memungkinkan terjadinya perubahan kategori bentuk dasar (input) dan kata jadiannya (output)

Contoh Proses Morfologi Infleksional dan Derivasional
Afiksasi
Input
Output
Proses Morfologi
Afiks
Makna
Bentuk dasar
Makna kata
Kategori kata
Kata setelahnya
Makna kata
Kategori kata
-s
Jamak
Book
Buku (tunggal)
nomina
books
Buku (jamak)
Nomina
Infleksi
-let
Ukuran kecil
Book
Buku
nomina
booklet
Buku kecil
Nomina
Derifasi
-er
pelaku
Book
Memesan
verba
booker
Pemesan
Nomina
Derifasi

Pada contoh di atas, penambahan afiks –s “jamak” pada kata book “buku (tunggal)” yang membentuk kata books “buku (jamak)” tidak mengakibatkan perubahan makna kata dan kategori bentuk dasar. Sebaliknya, penambahan afiks –let “ukuran kecil” pada kata book “buku” yang menghasilkan kata baru booklet “buku kecil” mengubah makna kata dasarnya, meskipun tidak terjadi perubahan kategori kata. Demikian juga penambahan afiks –er “pelaku” pada verba book memesan” selain mengubah makna kata, bentuk dasarnya juga mengubah kategori kata dasarnya dari verba menjadi nomina booker “pemesan”.

2. Proses morfologis infleksional ditentukan oleh kondisi sintaktik (sesuai gramatikal atau tata bahasa), sedangkan proses morfologis derivasional tidak.
Misalnya:
a. The students always perform their dancing in front of their parents.
b. The student always performs his/her dancing in front of his/her parents.
c. The students performed their dancing in front of their parents last week.
d. perform (V) = performance (N)
Pada contoh (a–c) verba perform, performs, performed “mempertunjukkan” dipilih dalam kalimat tersebut karena pertimbangan gramatikal dalam bahasa Inggris, yaitu:
1. Apabila pelaku verba adalah orang ketiga jamak dalam present tense, maka verba tersebut berbentuk verba dasar perform.
2. Apabila pelaku verba adalah orang ketiga tunggal dalam present tense, maka verba tersebut berbentuk verba dasar plus afiks –s/es, performs.
3. Apabila verba dinyatakan dalam past tense, maka verba tersebut berbentuk verba dasar pluss sufiks –ed, performed.

Pertimbangan sintaktik atau aturan gramatikal tersebut tidak berlaku pada pembentukan nomina performance “pertunjukan” dari verba perform “mempertunjukkan”, seperti pada contoh (d)

3. Morfologi infleksional cenderung lebih produktif daripada morfologi derivasional.
Misalnya, afiks infleksional –s/es “jamak” dapat dipakai untuk menjamakkan nomina apapun, kecuali nomina tak beraturan (irregular nouns) yang memiliki bentuk jamak sendiri. Sebaliknya, tidak semua adjektiva dapat digabungkan dengan afiks –ly “secara” untuk membentuk adverbia.
A.    bag = bags
   box = boxes
   child = children
B.     slow = slowly
   quick = quickly
   clever = cleverly
   good = goodly

4. Afiks derivasional cenderung lebih dekat dengan akar kata atau dasar daripada afiks infleksional.


B.     Proses Morfologi
Proses morfologik\ ialah proses pembentukan kata – kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Dalam Bahasa Indonesia terdapat tiga proses morfologik, ialah proses pembubuhan afiks (afiksasi), proses pengulangan (reduplikasi), dan proses pemajemukan (pemajemukan).

Macam – macam Proses Morfologi
1.        Proses Pembubuhan Afiks (afiksasi)
Afiksasi merupakan nama lain dari morfem terikat. Morfem terikat merupakan kata yang tidak dapat berdiri sendiri. Kata dasar dapat berupa kata benda, kata sifat, kata kerja, dll. Penggabungan morfem bebas dan morfem terikat akan membentuk kata jadian.
Afiksasi terdiri atas:
a.   prefiks (ber-, me-, pe-, per-, di-, ter-, ke-, se-
b.   sufiks (–kan, –an, –i),
c.    infiks (–el-, -em-, -er-),
d. konfiks (ber-kan, ber-an, per-kan, per-an, per-i, pe-an, di-kan, di-i, me-kan, me-i, ter-kan, ter-i, ke-an), dan
e. simulfiks (memper-kan, memper-i, diper-kan, diper-i).

2. Komposisi atau Pemajemukan dalam Bahasa Indonesia
Komposisi adalah proses kata pemajemukan. Kata majemuk ialah gabungan kata dasar yang telah bersenyawa atau yang sudah membentuk satu kesatuan dan menimbulkan arti baru (Alisjahbana, 1953). 
Contoh : Keras+kepala = keras kepala
       Kamar+mandi = kamar mandi
       Mata+pelajaran = mata pelajaran
       Kumis+kucing = kumis kucing
Kumis kucing dalam arti ‘sejenis tanaman’ adalah kata majemuk, tetapi kumis kucing dalam arti ‘kumis dari seekor kucing’ bukanlah kata majemuk. Pokok kata (tidak bisa diartikan jika sendiri), tetapi setelah bergabung kemudian mempunyai arti sendiri disebut pemajemukan.

3.         Pengulangan (Reduplikasi)
Pengulangan atau redupliksai adalah pengulangan satuan gramatik, baik seluruh, maupun sebagian, baik variasi fonem maupun tidak, hasil pengulangan itu merupakan kata ulang, sedangkan satuan yang diulang merupakan bentuk dasar. Misalnya, rumah – rumah dari bentuk dasar rumah.
Setiap kata ulang sudah pasti memilki bentuk dasar. Kata-kata seperti sia-sia, mondar-mandir dll., tidak dapat digolongkan kata ulang karena sebenarnya tidak ada satuan yang diulang. dari deretan morfologik dapat ditentukan bahwa sesungguhnya tidak ada satuan yang lebih kecil dari kata-kata tersebut.

C.    kesimpulan
dari penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa morphology adalah bagian dari linguistik yang mempelajari semua hal mengenai KATA baik itu bentuk awal dan maknanya atau bentuk kata yang telah diubah (ditambah atau dikurang) dari kata dasarnya dan bagaimana perubahan makna kata tersebut. Sehingga saya menyimpulkan bahwa morphology adalah ilmu bermain demgan kata-kata.



sources:
Jurnal morfologi derivasional dalam bahasa inggris oleh Sunardi




Okay guys... sekian informasi yang dapat saya berikan semoga bermanfaat buat kita semua.
Thank you for visiting my blog, and don't forget leave your "jejak" 👣 down below :) 
Bye bye... 👋👋

Wednesday, 16 October 2019

Linguistics




Hello everyone...
In this post, i will share you some information that i know about linguistics. Let we see together...😊

What is linguistics??

Linguistics is the study about human natural language. Linguistics talk averything about language such as speech sounds, words, sentences, and how language evolve over time. So before we learn about linguistics, we have to know what is language?. 👀👇

Language comes from the latin word "lingua" that means language. Human use language to communicate each other or give a sign, it can be a symbol or words. Language is a system that associate sounds with meaning in a way that uses words and sentences.

Before i wrote this blog, i heve searched about the history of linguistics.  Linguistics was started in 1963 by Mouton Publishers in The Hague, apparently on the initiative of Mouton's Peter de Ridder as well as linguist C.H. van Schooneveld. In the early 20th century, Ferdinand de Saussure distinguished between the notions of langue and parole in his formulation of structural linguistics. Ferdinand de Saussure (the father of modern linguistics) in his book cours de linguistique generale proposed the terms langage, langue, and parole. Which is "langage"means language in general, "langue" means a particular language, and "parole" means the language of an individual.

So, from that brief explanation, we can conclude that linguistics is everything about language not only words but also the sounds, meanings, or the form of words, and there are any expression in language. Linguistics make language as the object to study. People who studies language called as linguist.

Linguistics have various branches, let's see one by one.
1) phonetics. This is the study of the production (using the mouth, nose, teeth and tongue) and perception of speech sound. It means how these sounds are articulated and how the hearer perceives them.
For example: when we voicing "s" and "z"
                         in word "sue" and "zoo"

2) phonology. Is the study of the sound patterns of language. It's describe the contrastive consonants and vowels in a language, and how pronunciation is affected by the position of the sound in the word and the sounds that are nearby.

For example: when we voicing "seen" and "sin"

So, the difference between phonology and phonetics is Phonology the study of speech sounds of a given language and their function within the sound system of that language, but Phonetics is the study of speech processes, including the anatomy, neurology, and pathology of speech, the articulation, classification and perception of speech sounds

3) morphology. Is the study of word structure and formation.
For example: house (singular)
                    Houses (plural)

4) syntax. Is the study of sentence structure. It means of how phrases, clauses and sentences are constructed and combined in particular languages.
For example: Box (word)
                         That big box (phrase)
                         That big box is very heavy (clause)

5) semantics. The study of linguistic meaning. It means the meaning and interpretation of words, signs, and sentences structure is depend on how we understand and what decision we make as a result of our interpretation.

6) pragmatics.  Pragmatics is similar with semantics, but it involves the study of how speakers of a language use the language to communicate and accomplish what they want. Pragmatics looks more at the relationship between speaker and listener which allows assumptions to be made about the intended message, considering, for example, the way context contributes to meaning.

For example: when you in your friend's house and her mother ask you "what time is it?". It means if it turns out of 10 p.m, she were told you to go home because it was too late.


Sources:

https://www.sil.org/linguistics/what-linguistics
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Linguistics
https://examples.yourdictionary.com/examples-of-semantics.html
https://www.ef.co.id/englishfirst/englishstudy/macam-macam-teori-sastra-dan-pengertiannya/perbedaan-ilmu-phonology-dan-phonetic.aspx
http://syah41835.blogspot.com/2016/03/cara-termudah-membedakan-phonetics-dan.html?m=1
https://all-about-linguistics.group.shef.ac.uk/branches-of-linguistics/pragmatics/what-is-pragmatics/



Okay guys i think that's all i know about linguistics and the conclusion of this part is linguistics is not only about language, word, sentence or symbol but also about how it's pronounce, meaning, and how the difference pronounce can make the different meaning to hearer.


Thank you to visit my blog and don't forget to give your comment down below... 😀
See you...👋👋

Tuesday, 8 October 2019

A Little Bit About Me


Who I Am


Hello everyone...
In this post, i will hmm give you a little bit introduction about me.
Happy reading... 😀😀

Nama saya adalah Monalisa Irmayanti Hasibuan. Biasanya dipanggil Mona atau Monmon. Sesuai judul saya di blog ini, saya ingin menceritakan diri saya atau mungkin ini akan lebih seperti "the story of my life". 😅
Mungkin bagi kebanyakan orang untuk mengetahui diri sendiri adalah hal yang sulit, begitu juga dengan saya. Tapi ini sangat penting untuk menentukan target dan tujuan kita masing-masing.

Saya adalah mahasiswi Universitas Lancang Kuning, jurusan Pendidikan Bahasa Inggris semester 3. Saya berusia 19 tahun. Saya lahir dan dibesarkan di Perawang bersama 4 saudara saya. Saya adalah anak ke dua dari lima bersaudara.

Sejak saya belum sekolah, saya sudah bercita-cita ingin menjadi seorang guru. Setiap kali ditanya tentang cita-cita, saya selalu menjawab dengan penuh percaya diri menjadi GURU. Sampai saya SMP cita-cita itu tidak pernah berubah. Saya tidak tahu kenapa saya sangat berambisi untuk menjadi seorang guru.

Dari saya kecil saya selalu ingin menjadi yang terbaik disekolah maupun diantara saudara-saudara saya. Oleh karena itu saya selalu berusaha membanggakan kedua orang tua saya dengan cara berprestasi di sekolah.

Dan puji Tuhan, saya selalu mendapatkan juara dari SD sampai SMP. Selain itu saya juga sering menjadi perwakilan sekolah jika ada olimpiade atau cerdas cermat. Sehingga dengan begitu saya bisa mendapatkan beasiswa dengan tidak membayar uang sekolah sampai saya lulus SMP karena berhubung saya bersekolah di sekolah swasta. Dengan begitu pula saya bisa mendapat hadiah prestasi berupa uang dari perusahaan ditempat ayah saya bekerja.

Setelah saya masuk SMA semua masih berjalan dengan baik. Di SMA saya bergabung dengan tim olimpiade biologi di sekolah saya. Sebenarnya alasan saya ikut adalah agar saya mendapat pengetahuan lebih tanpa harus les, sehingga tidak merepotkan orang tua saya. (Yahh, mungkin kita harus pandai-pandai kalau ingin menjadi pandai 😁, tapi dalam ruang lingkup yang positif ya guys... 😊).
Selama tiga tahun saya selalu ikut serta mewakili sekolah saya untuk olimpiade biologi. Walaupun tidak berhasil mendapat gelar juara, tetapi saya bersyukur pernah merasakan pengalaman dan proses yang luar biasa.

Ketika saya duduk di kelas 3 SMA, keinginan saya untuk menjadi seorang guru sedikit berkurang karena suatu alasan. Namun orang tua saya tetap mendukung saya untuk menjadi guru. Bahkan sampai menjelang ujian akhir saya belum memutuskan untuk melanjut kuliah di jurusan apa.
Setelah berpikir dan meyakinkan diri, saya memutuskan untuk mendaftar di jurusan Pendidikan kimia didua PTN yang berbeda saat SNMPTN. Tapi tenyata saya gagal.  :(
Dan begitu pula ketika SBMPTN.

Saat itu saya merasa gagal untuk membanggakan orang tua saya. Perasaan kecewa tentu ada, tapi saya berusaha untuk meyakinkan diri saya mungkin ada tempat yang lebih baik buat saya selain PTN itu.
Akhirnya orang tua saya menyarankan  untuk mengambil jurusan Pendidikan bahasa inggris di Universitas saya sekarang ini. Saya tidak pernah terpikir untuk mengambil jurusan ini walaupun saya suka dengan bahasa inggris. Menurut saya, orang yang bisa berbicara dalam bahasa inggris terlihat lebih "cantik". :)

Saat pertama kuliah saya belum bisa menentukan apa yang akan saya lakukan kedepannya setelah kuliah. Tetapi di pertengahan semester satu, salah satu dosen saya pernah bertanya di kelas saya " kenapa kalian masuk FKIP?" dan tentu kebanyakan dari kami menjawab ingin menjadi guru. Lalu beliau berkata " lalu kalau kalian tidak bisa menjadi guru, maka apa yang akan kalian kerjakan?. Kalian harus punya cita-cita yang paling tinggi dibidang kalian. Karena kalian dijurusan Pendidikan, maka buat cita-cita yang paling tinggi dari bidang itu. Misalnya menjadi Rektor, Dosen, Pemilik sekolah, Kepala sekolah, kemudian Guru. Karena kalau tidak bisa menjadi Rektor, kalian bisa menjadi Dosen, kalau tidak bisa, menjadi Pemilik sekolah dan seterusnya."

Karena hal itu, saya menjadi bercita-cita untuk membuat sekolah atau yayasan sendiri. (mudah-mudah bisa terwujud... Amin..)
Tentunya banyak hal yang saya dapatkan selama dua semester ini. Banyak hal positif dan pengalaman yang saya dapat, baik dari dosen maupun teman-teman saya. Saya belajar untuk menjadi individu yang mau terbuka pada hal-hal baru dan tahu bahwa bukan hanya tentang diri saya sendiri, tetapi semua orang punya sudut pandang masing-masing. Saya juga merupakan tipe orang yang sangat suka bekerja secara individu. Tetapi tidak berarti saya tidak bisa bekerja sama dalam kelompok. Saya selalu membiasakan diri saya untuk selalu fleksibel disetiap keadaan.

Sewaktu saya sekolah maupun saat kuliah, beberapa orang teman saya pernah berkata bahwa saya adalah orang yang perfeksionis. Menurut saya itu adalah hal yang baik selagi itu memang bertujuan baik. Karena saya selalu terbiasa untuk memberikan yang terbaik dari apa yang bisa saya lakukan.

Sepertinya sekian dulu untuk perkenalan atau lebih tepatnya cerita saya 😄, dan harapan saya semoga saya dan kita semua akan selalu menjadi yang terbaik di versi kita masing-masing.

See you guys... 👋👋

Thank you..

And good luck for everything... 🙏