Wednesday, 18 December 2019

About Morphology

Morphology In Linguistics


Saturday, 19 October 2019

What is Morphology




 Morphology??


Hai, welcome back to my blog... 😊 
In this post, i will share you what i know about one branches of linguistics, that is "Morphology". Before i wrote this blog i've searched some sources about Morphology. I choose this branch because i really interesred in that meaning and how it works. Maybe you will think like me after read this post :)
so, let we see together... 👀👇 

1.      Pengertian Morfologi

Morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata. Dapat pula dikatakan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatikal maupun fungsi semantik. Dalam ilmu morfologi, terdapat morfem yaitu bagian terkecil dari sebuah kata yang tidak dapat dibagi lagi namun masih tetap memiliki makna. 

Morfem dapat dibagi menjadi dua yaitu morfem bebas (free morpheme), yaitu morfem yang dapat berdiri sendiri tanpa adanya penambahan morfem lain, atau dengan kata lain morfem ini menjadi satuan kata sendiri, misalnya kata tas, di, pergi dan cantik dalam bahasa Indonesia, atau dalam bahasa Inggris ada kata seperti book, on, wash dan fast. Morfem yang kedua adalah morfem yang tidak dapat berdiri sendiri tanpa direkatkan pada morfem lain, atau disebut morfem terikat (bound morpheme). Bentuk ini sering disebut sebagai afiks karena morfem ini bukanlah kata akan tetapi merupakan bagian dari kata, sebagai contoh, morfem me-, di-, pe-an, atau dalam bahasa Inggris ada morfem -ify, il-, dan en-.

Dalam ilmu kebahasaan atau linguistik, kata dikaji dalam cabang linguistik yang disebut morfologi (morphology). Menurut Aronoff dan Fudeman (2005:1), istilah morfologi pada umumnya dikaitkan dengan seorang penyair, novelis, dramawan, dan filsuf berkebangsaan Jerman yang bernama Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832). Dia menggunakan istilah ini pada awal abad ke-19 dalam konteks biologi.
Secara etimologis, istilah morfologi berasal dari kata morph- dalam bahasa Yunani yang berarti “bentuk‟. Dalam bahasa Inggris, morfem morph- “bentuk‟ digabungkan dengan morfem –logy “ilmu, kajian‟ membentuk kata morphology yang berarti ‘ilmu atau kajian yang mempelajari bentuk‟.
Dalam ilmu linguistik istilah morfologi (morphology) dipakai untuk menyebut sistem mental yang terlibat dalam pembentukan kata atau cabang ilmu linguistik yang berkenaan dengan kata, struktur internal kata, dan bagaimana kata tersebut dibentuk.

Kata yang menjadi objek kajian morfologi adalah kata kompleks (complex words), yaitu kata yang secara morfologis terbentuk dari dua morfem atau lebih (polimorphemic) sehingga membentuk makna yang lebih kompleks (Plag, 2003:10).
Misalnya:

    a. enmployee  = karyawan    
inventor           = penemu      
unhappy          = sedih        
teacher             = guru 
sadness            = kesedihan 

b. chair = kursi
ball       = bola      
clever   = pandai
sad        = sedih


        
Kata-kata pada (a) termasuk ke dalam kata kompleks karena masing-masing terbentuk dari dua morfem. Misalnya, kata employee “karyawan” terbentuk dari verba employ memperkerjakan” dan akhiran –ee “pihak yang dipekerjakan”. Demikian juga kata unhappy “sedih” terbentuk dari adjektiva happy “senang” dan akhiran un- “tidak”. Sedangkan kata-kata pada (b) tidak mengalami proses morfologis, karena masing-masing hanya terbentuk dari satu morfem (monomorphemic).


Secara umum kata-kata yang ada dalam bahasa Inggris dibentuk secara infleksional atau derivasional.

 Morfologi infleksional berkenaan dengan proses pembentukan kata secara infleksional (inflection), sedangkan morfologi leksikal atau sering disebut dengan pembentukan kata (word formation) berkenaan dengan proses pembentukan kata secara derivasional (derivation) atau pemajemukan (compounding).
Menurut Aronoff dan Fudeman (2005:45), perbedaan yang mendasar antara proses morfologi infleksional dan derivasional adalah bahwa proses infleksional tidak mengakibatkan perubahan makna kata, sedangkan proses derivasional mengakibatkan perubahan makna kata.
Misalnya,
a. write =  writes, wrote, writing, written
b. write = writer

Proses morfologis yang terjadi pada contoh (a) merupakan proses infleksional, karena perubahan dari kata write menjadi writes, wrote, writing, written tidak ada perubahan makna kata antara kata write dengan writes, wrote, writing, written. Kata write, writes, wrote, writing, dan written memiliki makna yang sama yaitu “menulis‟. Mereka hanyalah bentuk kata yang berbeda dari kata WRITE. Sebaliknya, proses morfologis yang terjadi pada contoh (b) mengakibatkan perubahan makna kata antara kata write “menulis” dan kata writer “penulis”. Proses ini juga mengakibatkan perubahan kategori kata write (verba) menjadi kata writer (nomina).

Perbedaan Antara Morfologi Infleksional Dan Morfologi Derivasional
Aronoff dan Fudeman (2005:160-162) menjelaskan beberapa perbedaan antara morfologi infleksional dan morfologi derivasional sebagai berikut:
1. Morfologi infleksional tidak mengubah makna kata dasarnya (input), sebaliknya morfologi derivasional mengubah makna kata dasarnya (input) dan memungkinkan terjadinya perubahan kategori bentuk dasar (input) dan kata jadiannya (output)

Contoh Proses Morfologi Infleksional dan Derivasional
Afiksasi
Input
Output
Proses Morfologi
Afiks
Makna
Bentuk dasar
Makna kata
Kategori kata
Kata setelahnya
Makna kata
Kategori kata
-s
Jamak
Book
Buku (tunggal)
nomina
books
Buku (jamak)
Nomina
Infleksi
-let
Ukuran kecil
Book
Buku
nomina
booklet
Buku kecil
Nomina
Derifasi
-er
pelaku
Book
Memesan
verba
booker
Pemesan
Nomina
Derifasi

Pada contoh di atas, penambahan afiks –s “jamak” pada kata book “buku (tunggal)” yang membentuk kata books “buku (jamak)” tidak mengakibatkan perubahan makna kata dan kategori bentuk dasar. Sebaliknya, penambahan afiks –let “ukuran kecil” pada kata book “buku” yang menghasilkan kata baru booklet “buku kecil” mengubah makna kata dasarnya, meskipun tidak terjadi perubahan kategori kata. Demikian juga penambahan afiks –er “pelaku” pada verba book memesan” selain mengubah makna kata, bentuk dasarnya juga mengubah kategori kata dasarnya dari verba menjadi nomina booker “pemesan”.

2. Proses morfologis infleksional ditentukan oleh kondisi sintaktik (sesuai gramatikal atau tata bahasa), sedangkan proses morfologis derivasional tidak.
Misalnya:
a. The students always perform their dancing in front of their parents.
b. The student always performs his/her dancing in front of his/her parents.
c. The students performed their dancing in front of their parents last week.
d. perform (V) = performance (N)
Pada contoh (a–c) verba perform, performs, performed “mempertunjukkan” dipilih dalam kalimat tersebut karena pertimbangan gramatikal dalam bahasa Inggris, yaitu:
1. Apabila pelaku verba adalah orang ketiga jamak dalam present tense, maka verba tersebut berbentuk verba dasar perform.
2. Apabila pelaku verba adalah orang ketiga tunggal dalam present tense, maka verba tersebut berbentuk verba dasar plus afiks –s/es, performs.
3. Apabila verba dinyatakan dalam past tense, maka verba tersebut berbentuk verba dasar pluss sufiks –ed, performed.

Pertimbangan sintaktik atau aturan gramatikal tersebut tidak berlaku pada pembentukan nomina performance “pertunjukan” dari verba perform “mempertunjukkan”, seperti pada contoh (d)

3. Morfologi infleksional cenderung lebih produktif daripada morfologi derivasional.
Misalnya, afiks infleksional –s/es “jamak” dapat dipakai untuk menjamakkan nomina apapun, kecuali nomina tak beraturan (irregular nouns) yang memiliki bentuk jamak sendiri. Sebaliknya, tidak semua adjektiva dapat digabungkan dengan afiks –ly “secara” untuk membentuk adverbia.
A.    bag = bags
   box = boxes
   child = children
B.     slow = slowly
   quick = quickly
   clever = cleverly
   good = goodly

4. Afiks derivasional cenderung lebih dekat dengan akar kata atau dasar daripada afiks infleksional.


B.     Proses Morfologi
Proses morfologik\ ialah proses pembentukan kata – kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Dalam Bahasa Indonesia terdapat tiga proses morfologik, ialah proses pembubuhan afiks (afiksasi), proses pengulangan (reduplikasi), dan proses pemajemukan (pemajemukan).

Macam – macam Proses Morfologi
1.        Proses Pembubuhan Afiks (afiksasi)
Afiksasi merupakan nama lain dari morfem terikat. Morfem terikat merupakan kata yang tidak dapat berdiri sendiri. Kata dasar dapat berupa kata benda, kata sifat, kata kerja, dll. Penggabungan morfem bebas dan morfem terikat akan membentuk kata jadian.
Afiksasi terdiri atas:
a.   prefiks (ber-, me-, pe-, per-, di-, ter-, ke-, se-
b.   sufiks (–kan, –an, –i),
c.    infiks (–el-, -em-, -er-),
d. konfiks (ber-kan, ber-an, per-kan, per-an, per-i, pe-an, di-kan, di-i, me-kan, me-i, ter-kan, ter-i, ke-an), dan
e. simulfiks (memper-kan, memper-i, diper-kan, diper-i).

2. Komposisi atau Pemajemukan dalam Bahasa Indonesia
Komposisi adalah proses kata pemajemukan. Kata majemuk ialah gabungan kata dasar yang telah bersenyawa atau yang sudah membentuk satu kesatuan dan menimbulkan arti baru (Alisjahbana, 1953). 
Contoh : Keras+kepala = keras kepala
       Kamar+mandi = kamar mandi
       Mata+pelajaran = mata pelajaran
       Kumis+kucing = kumis kucing
Kumis kucing dalam arti ‘sejenis tanaman’ adalah kata majemuk, tetapi kumis kucing dalam arti ‘kumis dari seekor kucing’ bukanlah kata majemuk. Pokok kata (tidak bisa diartikan jika sendiri), tetapi setelah bergabung kemudian mempunyai arti sendiri disebut pemajemukan.

3.         Pengulangan (Reduplikasi)
Pengulangan atau redupliksai adalah pengulangan satuan gramatik, baik seluruh, maupun sebagian, baik variasi fonem maupun tidak, hasil pengulangan itu merupakan kata ulang, sedangkan satuan yang diulang merupakan bentuk dasar. Misalnya, rumah – rumah dari bentuk dasar rumah.
Setiap kata ulang sudah pasti memilki bentuk dasar. Kata-kata seperti sia-sia, mondar-mandir dll., tidak dapat digolongkan kata ulang karena sebenarnya tidak ada satuan yang diulang. dari deretan morfologik dapat ditentukan bahwa sesungguhnya tidak ada satuan yang lebih kecil dari kata-kata tersebut.

C.    kesimpulan
dari penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa morphology adalah bagian dari linguistik yang mempelajari semua hal mengenai KATA baik itu bentuk awal dan maknanya atau bentuk kata yang telah diubah (ditambah atau dikurang) dari kata dasarnya dan bagaimana perubahan makna kata tersebut. Sehingga saya menyimpulkan bahwa morphology adalah ilmu bermain demgan kata-kata.



sources:
Jurnal morfologi derivasional dalam bahasa inggris oleh Sunardi




Okay guys... sekian informasi yang dapat saya berikan semoga bermanfaat buat kita semua.
Thank you for visiting my blog, and don't forget leave your "jejak" 👣 down below :) 
Bye bye... 👋👋

Wednesday, 16 October 2019

Linguistics




Hello everyone...
In this post, i will share you some information that i know about linguistics. Let we see together...😊

What is linguistics??

Linguistics is the study about human natural language. Linguistics talk averything about language such as speech sounds, words, sentences, and how language evolve over time. So before we learn about linguistics, we have to know what is language?. 👀👇

Language comes from the latin word "lingua" that means language. Human use language to communicate each other or give a sign, it can be a symbol or words. Language is a system that associate sounds with meaning in a way that uses words and sentences.

Before i wrote this blog, i heve searched about the history of linguistics.  Linguistics was started in 1963 by Mouton Publishers in The Hague, apparently on the initiative of Mouton's Peter de Ridder as well as linguist C.H. van Schooneveld. In the early 20th century, Ferdinand de Saussure distinguished between the notions of langue and parole in his formulation of structural linguistics. Ferdinand de Saussure (the father of modern linguistics) in his book cours de linguistique generale proposed the terms langage, langue, and parole. Which is "langage"means language in general, "langue" means a particular language, and "parole" means the language of an individual.

So, from that brief explanation, we can conclude that linguistics is everything about language not only words but also the sounds, meanings, or the form of words, and there are any expression in language. Linguistics make language as the object to study. People who studies language called as linguist.

Linguistics have various branches, let's see one by one.
1) phonetics. This is the study of the production (using the mouth, nose, teeth and tongue) and perception of speech sound. It means how these sounds are articulated and how the hearer perceives them.
For example: when we voicing "s" and "z"
                         in word "sue" and "zoo"

2) phonology. Is the study of the sound patterns of language. It's describe the contrastive consonants and vowels in a language, and how pronunciation is affected by the position of the sound in the word and the sounds that are nearby.

For example: when we voicing "seen" and "sin"

So, the difference between phonology and phonetics is Phonology the study of speech sounds of a given language and their function within the sound system of that language, but Phonetics is the study of speech processes, including the anatomy, neurology, and pathology of speech, the articulation, classification and perception of speech sounds

3) morphology. Is the study of word structure and formation.
For example: house (singular)
                    Houses (plural)

4) syntax. Is the study of sentence structure. It means of how phrases, clauses and sentences are constructed and combined in particular languages.
For example: Box (word)
                         That big box (phrase)
                         That big box is very heavy (clause)

5) semantics. The study of linguistic meaning. It means the meaning and interpretation of words, signs, and sentences structure is depend on how we understand and what decision we make as a result of our interpretation.

6) pragmatics.  Pragmatics is similar with semantics, but it involves the study of how speakers of a language use the language to communicate and accomplish what they want. Pragmatics looks more at the relationship between speaker and listener which allows assumptions to be made about the intended message, considering, for example, the way context contributes to meaning.

For example: when you in your friend's house and her mother ask you "what time is it?". It means if it turns out of 10 p.m, she were told you to go home because it was too late.


Sources:

https://www.sil.org/linguistics/what-linguistics
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Linguistics
https://examples.yourdictionary.com/examples-of-semantics.html
https://www.ef.co.id/englishfirst/englishstudy/macam-macam-teori-sastra-dan-pengertiannya/perbedaan-ilmu-phonology-dan-phonetic.aspx
http://syah41835.blogspot.com/2016/03/cara-termudah-membedakan-phonetics-dan.html?m=1
https://all-about-linguistics.group.shef.ac.uk/branches-of-linguistics/pragmatics/what-is-pragmatics/



Okay guys i think that's all i know about linguistics and the conclusion of this part is linguistics is not only about language, word, sentence or symbol but also about how it's pronounce, meaning, and how the difference pronounce can make the different meaning to hearer.


Thank you to visit my blog and don't forget to give your comment down below... 😀
See you...👋👋

Tuesday, 8 October 2019

A Little Bit About Me


Who I Am


Hello everyone...
In this post, i will hmm give you a little bit introduction about me.
Happy reading... 😀😀

Nama saya adalah Monalisa Irmayanti Hasibuan. Biasanya dipanggil Mona atau Monmon. Sesuai judul saya di blog ini, saya ingin menceritakan diri saya atau mungkin ini akan lebih seperti "the story of my life". 😅
Mungkin bagi kebanyakan orang untuk mengetahui diri sendiri adalah hal yang sulit, begitu juga dengan saya. Tapi ini sangat penting untuk menentukan target dan tujuan kita masing-masing.

Saya adalah mahasiswi Universitas Lancang Kuning, jurusan Pendidikan Bahasa Inggris semester 3. Saya berusia 19 tahun. Saya lahir dan dibesarkan di Perawang bersama 4 saudara saya. Saya adalah anak ke dua dari lima bersaudara.

Sejak saya belum sekolah, saya sudah bercita-cita ingin menjadi seorang guru. Setiap kali ditanya tentang cita-cita, saya selalu menjawab dengan penuh percaya diri menjadi GURU. Sampai saya SMP cita-cita itu tidak pernah berubah. Saya tidak tahu kenapa saya sangat berambisi untuk menjadi seorang guru.

Dari saya kecil saya selalu ingin menjadi yang terbaik disekolah maupun diantara saudara-saudara saya. Oleh karena itu saya selalu berusaha membanggakan kedua orang tua saya dengan cara berprestasi di sekolah.

Dan puji Tuhan, saya selalu mendapatkan juara dari SD sampai SMP. Selain itu saya juga sering menjadi perwakilan sekolah jika ada olimpiade atau cerdas cermat. Sehingga dengan begitu saya bisa mendapatkan beasiswa dengan tidak membayar uang sekolah sampai saya lulus SMP karena berhubung saya bersekolah di sekolah swasta. Dengan begitu pula saya bisa mendapat hadiah prestasi berupa uang dari perusahaan ditempat ayah saya bekerja.

Setelah saya masuk SMA semua masih berjalan dengan baik. Di SMA saya bergabung dengan tim olimpiade biologi di sekolah saya. Sebenarnya alasan saya ikut adalah agar saya mendapat pengetahuan lebih tanpa harus les, sehingga tidak merepotkan orang tua saya. (Yahh, mungkin kita harus pandai-pandai kalau ingin menjadi pandai 😁, tapi dalam ruang lingkup yang positif ya guys... 😊).
Selama tiga tahun saya selalu ikut serta mewakili sekolah saya untuk olimpiade biologi. Walaupun tidak berhasil mendapat gelar juara, tetapi saya bersyukur pernah merasakan pengalaman dan proses yang luar biasa.

Ketika saya duduk di kelas 3 SMA, keinginan saya untuk menjadi seorang guru sedikit berkurang karena suatu alasan. Namun orang tua saya tetap mendukung saya untuk menjadi guru. Bahkan sampai menjelang ujian akhir saya belum memutuskan untuk melanjut kuliah di jurusan apa.
Setelah berpikir dan meyakinkan diri, saya memutuskan untuk mendaftar di jurusan Pendidikan kimia didua PTN yang berbeda saat SNMPTN. Tapi tenyata saya gagal.  :(
Dan begitu pula ketika SBMPTN.

Saat itu saya merasa gagal untuk membanggakan orang tua saya. Perasaan kecewa tentu ada, tapi saya berusaha untuk meyakinkan diri saya mungkin ada tempat yang lebih baik buat saya selain PTN itu.
Akhirnya orang tua saya menyarankan  untuk mengambil jurusan Pendidikan bahasa inggris di Universitas saya sekarang ini. Saya tidak pernah terpikir untuk mengambil jurusan ini walaupun saya suka dengan bahasa inggris. Menurut saya, orang yang bisa berbicara dalam bahasa inggris terlihat lebih "cantik". :)

Saat pertama kuliah saya belum bisa menentukan apa yang akan saya lakukan kedepannya setelah kuliah. Tetapi di pertengahan semester satu, salah satu dosen saya pernah bertanya di kelas saya " kenapa kalian masuk FKIP?" dan tentu kebanyakan dari kami menjawab ingin menjadi guru. Lalu beliau berkata " lalu kalau kalian tidak bisa menjadi guru, maka apa yang akan kalian kerjakan?. Kalian harus punya cita-cita yang paling tinggi dibidang kalian. Karena kalian dijurusan Pendidikan, maka buat cita-cita yang paling tinggi dari bidang itu. Misalnya menjadi Rektor, Dosen, Pemilik sekolah, Kepala sekolah, kemudian Guru. Karena kalau tidak bisa menjadi Rektor, kalian bisa menjadi Dosen, kalau tidak bisa, menjadi Pemilik sekolah dan seterusnya."

Karena hal itu, saya menjadi bercita-cita untuk membuat sekolah atau yayasan sendiri. (mudah-mudah bisa terwujud... Amin..)
Tentunya banyak hal yang saya dapatkan selama dua semester ini. Banyak hal positif dan pengalaman yang saya dapat, baik dari dosen maupun teman-teman saya. Saya belajar untuk menjadi individu yang mau terbuka pada hal-hal baru dan tahu bahwa bukan hanya tentang diri saya sendiri, tetapi semua orang punya sudut pandang masing-masing. Saya juga merupakan tipe orang yang sangat suka bekerja secara individu. Tetapi tidak berarti saya tidak bisa bekerja sama dalam kelompok. Saya selalu membiasakan diri saya untuk selalu fleksibel disetiap keadaan.

Sewaktu saya sekolah maupun saat kuliah, beberapa orang teman saya pernah berkata bahwa saya adalah orang yang perfeksionis. Menurut saya itu adalah hal yang baik selagi itu memang bertujuan baik. Karena saya selalu terbiasa untuk memberikan yang terbaik dari apa yang bisa saya lakukan.

Sepertinya sekian dulu untuk perkenalan atau lebih tepatnya cerita saya 😄, dan harapan saya semoga saya dan kita semua akan selalu menjadi yang terbaik di versi kita masing-masing.

See you guys... 👋👋

Thank you..

And good luck for everything... 🙏

Wednesday, 28 November 2018

Landasan historis pendidikan indonesia: pendidikan pada zaman purba hingga zaman belanda

MAKALAH FILOSOFI DAN LANDASAN PENDIDIKAN
LANDASAN HISTORIS PENDIDIKAN INDONESIA:
PENDIDIKAN PADA ZAMAN PURBA HINGGA ZAMAN PEMERINTAHAN KOLONIAL BELANDA
DOSEN PENGAMPU: MUSTAKIM JM, M.Pd


NAMA KELOMPOK 9:

DARMAWAN BORU LUMBAN GAOL (1888203037)
MARIA LETARE SITOMPUL (1888203029)
MONALISA IRMAYANTI HASIBUAN (1888203026)
KELAS: 1.2 PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PRODI PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
UNIVERSITAS LANCANG KUNING
PEKANBARU
2018







KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Makalah mengenai  “Landasan Historis Pendidikan Indonesia: Pendidikan Pada Zaman Purba Hingga Zaman Pemerintahan Kolonial Belanda”. Disusun sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Filosofi dan Landasan Pendidikan.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca. Kami menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna. Oleh karena itu kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak  baik yang menyusun maupun yang membaca.


Pekanbaru, 15 Oktober 2018










DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................         1
DAFTAR ISI ...............................................................................................          2
BAB I PENDAHULUAN
Latar belakang 3
Rumusan Masalah 3
Tujuan Penulisan 4
BAB II PEMBAHASAN
Pengertian Landasan Historis Pendidikan............ 5
Pendidikan Pada Zaman Purba Hingga Zaman Belanda .......         7
Zaman Purba ..........................................................................         7
Zaman Pengaruh Hindu Dan Budha .....................................         8
Zaman Kerajaan Islam ..........................................................         9
Zaman Pengaruh Portugis dan Spanyol ................................        11
Zaman Kolonial Belanda ......................................................        12
BAB III PENUTUP
Kesimpulan        26
Saran        26
DAFTAR PUSTAKA        27







BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. (UU Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional).
Selama ada kehidupan di dunia selama itu pula perlu adanya pendidikan. Kondisi pendidikan di setiap negara berubah-ubah tergantung masa atau zamannya, termasuk di Indonesia. Kondisi pendidikan di Indonesia terus berkembang dari waktu ke waktu. Baik dari zaman purba, hingga saat ini. Perkembangan pendidikan dipengaruhi banyak hal. Dalam pelaksanaan pendidikan, tentunya muncul berbagai permasalahan, baik masalah sederhana hingga masalah yang serius.
Tidak hanya sejarah militer dan politik saja yang dapat diteliti dan ditulis. Pendidikan juga ada historis atau sejarah yang mencatatnya. Untuk itu dalam makalah ini kami akan membahas mengenai Landasan Historis Pendidikan di Indonesia pada zaman purba hingga zaman kolonial Belanda.

Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah:
1. Apa pengertian dari Landasan Historis Pendidikan?
2. Bagaimana pendidikan di Indonesia pada zaman purba?
3. Bagaimana pendidikan di Indonesia pada zaman kerajaan Hindu-Budha?
4. Bagaimana pendidikan di Indonesia pada zaman kerajaan islam?
5. Bagaimana pendidikan di Indonesia pada zaman pengaruh Portugis dan Spanyol?
6. Bagaimana pendidikan di Indonesia pada zaman pemerintahan kolonial Belanda?

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengertian landasan historis pendidikan.
2. Untuk mengetahui pendidikan di Indonesia pada zaman purba.
3. Untuk mengetahui pendidikan di Indonesia pada zaman kerajaan Hindu- Budha.
4. Untuk mengetahui pendidikan di Indonesia pada zaman kerajaan islam.
5. Untuk mengetahui pendidikan di Indonesia pada zaman pengaruh Portugis dan Spanyol.
6. Untuk mengetahui pendidikan di Indonesia pada zaman pemerintahan kolonial Belanda.










BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Landasan Historis Pendidikan

Kata sejarah berasal dari bahasa Inggris yaitu “History” yang sebenarnya diambil dari bahasa Yunani “Istoria” yang berarti orang pandai. Sejarah atau historis adalah keadaan masa lampau dengan segala macam kejadian atau kegiatan yang didasari oleh konsep-konsep tertentu. Sejarah penuh dengan informasi-informasi yang mengandung kejadian, model, konsep, teori, praktik, moral, cita-cita, bentuk dan sebagainya.
Informasi-informasi di atas merupakan warisan generasi terdahulu kepada generasi muda yang tidak ternilai harganya. Generasi muda dapat belajar dari informasi-informasi ini terutama tentang kejadian-kejadian masa lampau dan memanfaatkannya untuk mengembangkan kemampuan diri mereka. Sejarah telah memberi penerangan, contoh, dan teladan bagi mereka dan semuanya ini diharapkan akan dapat meningkatkan peradaban manusia itu sendiri di masa kini dan masa yang akan datang.
Sejarah menjadi sebuah acuan untuk mengembangkan suatu kegiatan atau kebijakan pada saat ini. Mempelajari sejarah sangatlah penting karena dengan mempelajari sejarah manusia memperoleh banyak informasi dan manfaat sehingga menjadi lebih arif dan bijaksana dalam menentukan sebuah kebijakan dimasa yang akan datang.
Sedangkan pendidikan adalah sebuah proses yang arif, terencana dan berkesinambungan guna mendorong atau memotivasi peserta didik dalam mengembangkan  potensinya. Maka dari itu, yang dimaksud dengan landasan historis pendidikan adalah sejarah yang menjelaskan dasar-dasar pendidikan di masa lalu yang menjadi acuan terhadap pengembangan pendidikan di masa kini.
Landasan historis memberikan peranan yang penting karena dari sebuah landasan historis atau sejarah bisa membuat arah pemikiran kepada masa kini. Dengan demikian, setiap bidang kegiatan yang ingin dicapai manusia untuk maju, pada umumnya dikaitkan dengan bagaimana keadaan bidang tersebut pada masa yang lampau. Demikian juga halnya dengan bidang pendidikan. Sejarah pendidikan merupakan bahan pembanding untuk memajukan pendidikan suatu bangsa.
Seorang ahli pendidikan sebelum menangani pendidikan maka  terlebih dahulu mereka  memeriksa sejarah tentang pendidikan  baik yang bersifat nasional maupun internasional. Dengan melihat sebuah sejarah maka mereka bisa melihat tujuan dari pendidikan tersebut apakah sudah cocok dengan kondisi pada saat ini. Hal ini bertujuan agar mengetahui landasan historis Pendidikan Nasional Indonesia, mengetahui Sejarah pendidikan di dunia dan Pendidikan di Indonesia masa kini, serta mengetahui problematika pendidikan di Indonesia masa kini.
Secara umum, pendidikan merupakan segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Secara khusus, pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, atau latihan, yang berlangsung di dalam dan luar sekolah sepanjang hayat, untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat di masa yang akan datang.
Tujuan pendidikan di Indonesia adalah untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang Pancasilais yang disertai oleh pengembangan afeksi, seperti sikap suka belajar, tahu cara belajar, rasa percaya diri, mencintai prestasi tinggi, kreatif dan produktif, serta puas akan sukses yang akan dicapai.

2. Pendidikan Pada Zaman Purba Hingga Zaman Belanda

A.  Zaman Purba

Pada masa ini konsep pendidikan atau belajar berdasarkan pada hasil pengalaman-pengalaman dalam menjalani kehidupannya. Alat-alat yang digunakan pada masa prasejarah (purba) merupakan penemuan-penemuan yang berdasarkan pada kondisi alam serta kebutuhan. Terciptanya alat-alat baru untuk keperluan sehari-hari bukan merupakan suatu kebetulan melainkan sebagai hasil belajar dari pengalaman-pengalamannya. Walaupun alat-alat baru tersebut tercipta dalam proses yang sangat panjang (evolusi), hal itu menunjukkan bahwa mereka mau terus belajar memecahkan persoalan hidup. Akhirnya dengan semangat pantang menyerah pada tantangan alam, mereka mampu hidup dan bertahan serta terus mengembangkan peradaban.
Pendidikan pada zaman Purba, didominasi oleh peranan seorang ayah pada anak lelakinya dengan menurunkan kepandaian dan pengetahuan pada anaknya. Adapun pengetahuan yang diturunkan biasanya pengetahuan praktis seperti berburu, menangkap ikan dan memanjat pohon. Sedangkan ibu punya tugas mendidik anak perempuannya seperti memasak dan memelihara anak-anaknya.
Jadi, konsep pendidikan pada zaman purba adalah konsep pendidikan keluarga. Selain ayah dan ibu, pada zaman purba juga ada yang dianggap guru yaitu:
Empu
Seseorang yang dianggap memiliki pengetahuan dan kelebihan dalam bidang kerohanian maupun etika.
Pandai besi
Pandai besi pada zaman purba juga dianggap sebagai seorang yang punya kelebihan dan kekuatan. Karena pada zaman itu senjata tajam adalah alat utama untuk bercocok tanam, berperang atau mempertahankan diri dari serangan kelompok lain.
Dukun
Dukun pada zaman purba juga dianggap orang yang memiliki kelebihan dan sangat di segani dan dihormati serta nasihatnya sangat di taati.
Tujuan pendidikan secara umum pada zaman purba adalah membentuk seseorang agar menjadi seorang yang berjiwa ''gotong royong'' dan membentuk manusia agar mempunyai kecakapan dalam hal beretika, ilmu berburu dan menangkap ikan.
Walaupun pada zaman ini belum di kenal istilah kurikulum, namun pendidikannya telah mencakup aspek kajian kurikulum, yakni meliputi pengetahuan, sikap dan  nilai mengenai kepercayaan melalui upacara-upacara keagamaan dalam rangka menyembah nenek moyang.

B.  Zaman Pengaruh Hindu dan Budha

Hindu dan Budha datang ke Indonesia sekitar abad ke-5. Tujuan pendidikan pada zaman ini sama dengan tujuan kedua agama tersebut. Pendidikan dilaksanakan dalam rangka penyebaran dan pembinaan kehidupan beragama Hindu dan Budha.
Ajaran Hindu dan Budha memberikan corak pada praktik pendidikan di Indonesia pada zaman kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha di Kalimantan (Kutai), Pulau Jawa (Tarumanegara hingga Majapahit), Bali dan Sumatera (Sriwijaya). Prasasti tertua yang ditemukan di Kutai dan di Tarumanegara merupakan peninggalan agama Hindu. Pada periode awal berkembangnya agama Hindu-Budha di Indonesia, sistem pendidikan sepenuhnya bermuatan keagamaan yang dilaksanakan di biara-biara atau padepokan. Pada perkembangan selanjutnya, muatan pendidikan bukan hanya berupa ajaran keagamaan, melainkan ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang.
Pada masa Hindu-Budha ini, kaum Brahmana merupakan golongan yang menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran. Tujuan pendidikan umumnya agar menjadi penganut agama yang taat, mampu hidup bermasyarakat, mampu membela diri, dan membela negara.  Adapun materi-materi pelajaran yang diberikan ketika itu antara lain: teologi, bahasa dan sastra, ilmu-ilmu kemasyarakatan, ilmu-ilmu eksakta seperti ilmu perbintangan, ilmu pasti, perhitungan waktu, seni bangunan, seni rupa dan lain-lain.
Menjelang periode akhir, pola pendidikan tidak lagi dilakukan dalam kompleks yang bersifat kolosal, tetapi oleh para guru di padepokan-padepokan dengan jumlah murid relatif terbatas dan bobot materi ajar yang bersifat spiritual religius. Para murid pada zaman ini selain belajar juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
Jadi secara umum dapat disimpulkan bahwa:
Pengelola pendidikan adalah kaum brahmana dari tingkat dasar sampai dengan tingkat tinggi.
Bersifat tidak formal, dimana murid dapat berpindah dari satu guru ke guru yang lain
Kaum bangsawan biasanya mengundang guru untuk mengajar anak-anaknya di istana namun ada juga yang mengutus anak-anaknya yang pergi belajar ke guru-guru tertentu.
Pendidikan kejuruan atau keterampilan dilakukan secara turun-temurun melalui jalur kastanya masing-masing.

C.  Zaman Kerajaan Islam

Pendidikan berlandaskan ajaran Islam dimulai sejak datangnya para saudagar asal Gujarat India ke Nusantara pada abad ke-13 dan menyebarkan agama Islam di pulau Jawa dengan jasa wali songo, dan akhirnya berdirilah kerajaan Islam. Kehadiran mereka mula-mula terjalin melalui kontak teratur dengan para pedagang asal Sumatra dan Jawa. Para saudagar asal Gujarat yang beragama Islam itu kemudian menjadi penyebar agama Islam di Indonesia.
Ajaran Islam mula-mula berkembang di kawasan pesisir, sementara di pedalaman agama Hindu masih kuat. Kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah Samudera-Pasai di Aceh, yang didirikan tahun 1297 oleh Sultan Malik Al-Saleh. Namun diperkirakan pengaruh Islam telah masuk ke Indonesia jauh sebelum berdirinya Samudera-Pasai. Hal ini terbukti dengan adanya batu nisan di Leran, dekat Gresik, Jawa timur, yang menyebutkan tentang meninggalnya seorang wanita bernama Fatimah binti Maimun pada tahun 476 H (1082 M).
Di pulau Jawa dan Sumatera yang penduduknya lebih dahulu mengadakan kontak dengan pendatang dari luar Indonesia (terutama dari Cina, dan India) didapati pendidikan agama Islam dimasa pra-kolonial dalam bentuk pendidikan di surau atau langgar, pendidikan di pesantren, dan pendidikan di madrasah. Pendidikan agama di langgar dilaksanakan secara sederhana dengan bimbingan guru ngaji yang statusnya dibawah kyai. Materi yang diajarkan umumnya membaca Al-quran.
Di pesantren, para santri tinggal di tempat pemondokan sederhana yang biasanya disebut “pondok”. Sifat khusus pengajaran di pesantren antara lain :
Pelajaran bersifat keagamaan
Penghormatan yang tinggi kepada guru
Tidak ada gaji atau upah untuk guru karena motivasinya semata-mata karena Allah.
Santri datang secara sukarela untuk menuntut ilmu

Selain itu, ada juga pendidikan di madrasah yang bukan hanya mengajarkan agama, melainkan juga ilmu pengetahuan seperti astronomi, dan ilmu pengobatan. Pendidikan Indonesia baru mengenal sistem berjenjang yang formal sejak masuknya pengaruh Belanda. Namun hingga datangnya kolonial Belanda dan bahkan hingga sekarang ketiga corak pendidikan Islam, yaitu pendidikan di langgar, pesantren dan madrasah tetap bertahan.

D.  Zaman Pengaruh Portugis dan Spanyol

Bangsa Portugis pada abad ke-16 bercita-cita menguasai perdagangan dan perniagaan Timur-Barat dengan cara menemukan jalan laut menuju bagian Timur serta menguasai bandar-bandar dan daerah-daerah strategis yang menjadi mata rantai perdagaan dan perniagaan. Di samping mencari kejayaan (glorious) dan kekayaan (gold), bangsa Portugis datang ke Timur (termasuk Indonesia) bermaksud pula menyebarkan agama yang mereka anut, yakni Katholik (gospel).
Pada akhirnya pedagang Portugis menetap di bagian timur Indonesia tempat rempah-rempah itu dihasilkan. Dalam usahanya mencari rempah-rempah untuk dijual di Eropa (yang saat itu harganya sangat mahal), mereka selalu disertai misionaris Katolik-Roma yang berperan ganda sebagai penasehat spiritual dalam perjalanan yang jauh dan penyebar agama di tanah yang di datanginya. Misi mereka yang dikenal sebagai misi suci (mission sacre) dilaksanakan bersama misi pencarian rempah-rempah.
Dalam setiap operasi perdagangan, mereka menyertakan para paderi misionaris. Paderi yang terkenal di Maluku, sebagai salah satu pijakan Portugis dalam menjalankan misinya, adalah Franciscus Xaverius dari orde Jesuit. Xaverius memandang pendidikan sebagai alat yang ampuh untuk penyebaran agama. Seminari dibuka di ternate, kemudian di solor dan pendidikan agama yang lebih tinggi dapat diperoleh di Goa, India, pusat kekuasaan portugis saat itu. Bahasa portugis hampir sama populernya dengan bahasa melayu, kedudukan yang tak kunjung di capai oleh bahasa Belanda dalam waktu 350 tahun penjajahan.
Setelah bangsa Portugis berhasil menduduki suatu daerah atau pulau, usaha pertama yang dilakukannya adalah menjadikan penduduk setempat sebagai pemeluk Katolik-Roma. Kemudian di tempat itu didirikan seminar-seminar untuk mendidik anak-anak setempat. Bangsa Portugis juga mendirikan sekolah yang kurikulumnya berisi pendidikan agama katholik ditambah mata pelajaran membaca, menulis dan berhitung.
Namun kekuasan Portugis tidak berlangsung lama, hanya sekitar setengah abad, karena diusir oleh Spanyol, serta kekuasaan Portugis melemah akibat peperangan dengan raja-raja di Indonesia dan akhirnya dilenyapkan oleh Belanda pada tahun 1605.
Sedangkan pengaruh Kristen berasal dari orang-orang Belanda yang datang pertama kali tahun1596 di bawah pimpinan Cornelis de Houtman dengan tujuan untuk mencari rempah-rempah. Untuk menghindari persaingan di antara mereka, pemerintah Belanda mendirikan suatu kongsi dagang yang disebut VOC (vereenigde Oostindische Compagni) atau Persekutuan Dagang Hindia Belanda tahun 1602.
Sikap VOC terhadap pendidikan adalah membiarkan terselenggaranya Pendidikan Tradisional di Nusantara, mendukung diselenggarakannya sekolah-sekolah yang bertujuan menyebarkan agama Kristen. Kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh VOC terutama dipusatkan di bagian timur Indonesia di mana Katholik telah berakar dan di Batavia (Jakarta), pusat administrasi kolonial. Tujuannya untuk melenyapkan agama Katholik dengan menyebarkan agama Kristen Protestan.

E.  Zaman Kolonial Belanda

a.  Zaman VOC (Kompeni)

Pendidikan di bawah kekuasaan kolonial Belanda diawali dengan pelaksanaan pendidikan yang dilakukan oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagni). Pada masa VOC, yang merupakan sebuah kongsi (perusahaan) dagang, kondisi pendidikan di Indonesia dapat dikatakan tidak lepas dari maksud dan kepentingan komersial. Zaman VOC (Kompeni) Orang belanda datang ke Indonesia bukan untuk menjajah melainkan untuk berdagang. Mereka di motivasi oleh hasrat untuk mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya, sekalipun harus mengarungi laut yang berbahaya sejauh ribuan kilometer dalam kapal layar kecil untuk mengambil rempah-rempah dari indonesia.
Sekolah pertama didirikan VOC di Ambon pada tahun 1607. Sampai dengan tahun 1627 di Ambon telah berdiri 16 sekolah, sedangkan di pulau-pulau lainnya sekitar 18 sekolah. VOC menyelenggarakan sekolah dengan tujuan untuk misi keagamaan (Protestan), bukan untuk misi intelektualitas, adapun tujuan lainnya adalah untuk menghasilkan pegawai administrasi rendahan di pemerintahan dan gereja. Sekolah-sekolah utamanya didirikan di daerah-daerah yang penduduknya memeluk Katholik yang telah disebarkan oleh bangsa Portugis.
Pada awalnya yang menjadi guru adalah orang Belanda, kemudian digantikan oleh penduduk pribumi, yaitu mereka yang sebelumnya telah dididik di Belanda. Kurikulum pendidikan pada zaman VOC berisi mengenai pelajaran membaca, menulis dan sembahyang. Tujuan didirikan sekolah-sekolah oleh VOC adalah untuk melaksanakan pemeliharaan dan penyebaran agama Protestan, maka dari itu guru yang diangkat adalah para pendeta. Adapun mengenai uraian rencana pelajaran tidak dibuat karena sekolah yang didirikan memiliki tujuan keagamaan bukan intelektualitas  Indonesia.
VOC pada perkembangannya diperkuat, dipersenjatai dan dijadikan benteng oleh Belanda yang akhirnya menjadi landasan untuk menguasai daerah di sekitarnya. Lambat laun kantor dagang itu beralih dari pusat komersial menjadi basis politik dan teritorial. Setelah pecah perang kolonial di berbagai daerah di tanah air, akhirnya Indonesia jatuh seluruhnya di bawah pemerintahan Belanda.
Pada tahun 1816 VOC ambruk dan pemerintahan dikendalikan oleh para Komisaris Jendral dari Inggris. Mereka harus memulai sistem pendidikan dari dasar kembali, karena pendidikan pada zaman VOC berakhir dengan kegagalan total. Ide-ide liberal aliran Ufklarung atau Enlightement, yang mana mengatakan bahwa pendidikan adalah alat untuk mencapai kemajuan ekonomi dan sosial, banyak mempengaruhi mereka. Oleh karena itu, kurikulum sekolah mengalami perubahan radikal dengan masuknya ide-ide liberal tersebut yang bertujuan mengembangkan kemampuan intelektual, nilai-nilai rasional dan sosial. Pada awalnya kurikulum ini hanya diterapkan untuk anak-anak Belanda selama setengah abad ke-19.
Metode kolonialisasi Belanda sangat sederhana. Mereka mempertahankan raja-raja yang berkuasa dan menjalankan pemerintahan melalui raja-raja itu akan tetapi menuntut monopoli hak berdagang dan eksploitasi sumber-sumber alam. Adat istiadat dan kebudayaan asli dibiarkan tanpa ada perubahan oleh Belanda untuk memerintah negeri ini dengan cara efisien dan mudah. Oleh sebab Belanda tidak mencampuri kehidupan orang Indonesia secara langsung, maka sangat sedikit yang mereka perbuat untuk pendidikan bangsa. Kecuali usaha menyebarkan agama mereka di beberapa pulau di bagian timur Indonesia.

b.  Zaman Pemerintahan Hindia Belanda Setelah VOC

Setelah VOC dibubarkan, para Gubernur atau komisaris jenderal harus memulai sistem pendidikan dari dasarnya, karena pendidikan zaman VOC berakhir dengan kegagalan total.
Pada tahun 1808 Deandels seorang Gubernur Belanda mendapat perintah Raja Lodewijk untuk meringankan nasib rakyat jelata dan orang-orang pribumi, serta melenyapkan perdagangan budak. Usaha Deandels tersebut tidak berhasil, bahkan menambah penderitaan rakyat, karena ia mengadakan dan mewajibkan kerja paksa (rodi).
Didalam lapangan pendidikan Deandels memerintahkan kepada Bupati-bupati di Pulau Jawa agar mendirikan sekolah atas usaha biaya sendiri untuk mendidik anak-anak mematuhi adat dan kebiasaan. Kemudian Deandels mendirikan sekolah Bidan di Jakarta dan sekolah ronggeng di Cirebon.
Kemudian Pada masa pemerintahan Inggris (1811-1816) tidak membawa perubahan dalam masalah pendidikan walaupun Sir Stamford Raffles seorang ahli negara yang cemerlang. Ia lebih memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan, sedangkan pengajaran rakyat dibiarkan.
Setelah ambruknya VOC tahun 1816 pemerintah Belanda menggantikan kedudukan VOC. Status Hindia Belanda tahun 1801 dengan terang-terangan menyatakan bahwa tanah jajahan harus memberikan keuntungan yang sebesar-besarnya kepada perdagangan dan kepada kekayaan negeri Belanda.
Pada tahun 1842 Markus, menteri jajahan, memberikan perintah agar Gubernur Jenderal berusaha dengan segenap tenaga agar memperbesar keuntungan bagi negerinya. Walaupuan setiap Gubernur Jendaral pada penobatannya berjanji bahwa ia akan memajukan kesejahteraan Hindia Belanda dengan segenap usaha prinsip yang masih dipertahankan pada tahun 1854 ialah bahwa Hindia Belanda sebagai “negeri yang direbut harus terus memberi keuntungan kepada negeri Belanda sebagai tujuan pendidikan itu”.  Sekolah pertama bagi anak Belanda dibuka di Jakarta pada tahun 1817 yang segera diikuti oleh pembukaan sekolah dikota lain di Jawa.
Gubernur Jenderal Van der Capellen (1819-1823) menganjurkan pendidikan rakyat dan pada tahun 1820 kembali diinstruksikan untuk menyediakan sekolah bagi penduduk untuk mengajar anak-anak membaca dan menulis serta mengenal budi peketi yang baik. Anjuran Gubernur Jenderal itu tidak berhasil untuk mengembangkan pendidikan yang aktif.
Tahun 1826 lapangan pendidikan dan pengajaran terganggu oleh adanya usaha-usaha penghematan. Sekolah-sekolah yang ada hanya  bagi anak-anak Indonesia yang memeluk agama Nasrani. Alasannya adalah karena adanya kesulitan finansial yang berat yang dihadapi orang Belanda sebagai akibat perang Diponegoro (1825-1830) yang mahal dan menelan banyak korban serta peperangan antara Belanda dan Belgia (1830-1839).
Kesulitan keuangan ini menyebabkan raja Belanda untuk meninggalkan prinsip-prinsip liberal dan menerima rencana yang dianjurkan Van den Bosch, bekas Gubernur di Guyana, jajahan Belanda di Amerika selatan, untuk memanfaatkan pekerjaan budak menjadi dasar eksploitasi kolonial. Ia membawa ide penggunaan kerja paksa (rodi) sebagai cara yang ampuh untuk memperoleh cara usaha maksimal, yang kemudian terkenal dengan cultuur stelsel atau tanam paksa yang memaksa penduduk untuk menghasilkan tanaman yang diperlukan dipasaran Eropa.
Van den Bosch mengerti bahwa untuk memperbaiki pembangunan ekonomi bagi belanda dibutuhkan tenaga-tenaga ahli yang banyak. Setelah tahun 1848 dikeluarkan peraturan-peraturan yang menunjukan perintah lambat laun menerima tanggungjawab yang lebih besar atas pendidikan anak-anak Indonesia sebagai hasil perdebatan diparlemen Belanda dan mencerminkan sikap Liberal yang lebih menguntungkan tehadap rakyat Indonesia. Terbongkarnya penyalahgunaan sistem tanam paksa merupakan faktor dalam perubahan pandangan. Peraturan pemerintah tahun 1854 menginstruksikan Gubernur Jenderal untuk mendirikan sekolah dalam tiap kabupaten bagi pendidikan anak pribumi. Peraturan tahun 1863 mewajibkan Gubernur Jenderal untuk mengusahakan terciptanya situasi yang memungkinkan penduduk indonesia pada umumnya menikmati pendidikan.
Sistem tanam paksa dihapuskan tahun 1870 dan digantikan dengan undang-undang Agraria 1870. Pada tahun itu di Indonesia timbul masa baru dengan adanya undang-undang Agraria dari De Waal, yang memberi kebebasan pada pengusaha-pengusaha pertanian. Usaha-usaha perekonomian makin maju, masyarakat  lebih banyak lagi membutuhkan pegawai. Sekolah-sekolah  yang ada dianggap belum cukup memenuhi kebutuhan. Itulah sebabnya maka usaha mencetak calon-calon pegawai makin dipergiat lagi. Kini tugas departemen adalah memelihara sekolah-sekolah yang ada dengan lebih baik dan mempergiat usaha-usaha perluasan sekolah-sekolah baru.
Untuk mengatur dasar-dasar baru bagi pengajaran bumi putra, keluarlah indisch staatsblad 1893 nomor 125 yang membagi sekolah bumi putra menjadi dua bagian:
Sekolah-sekolah kelas I untuk anak-anak bangsawan dan kaum terkemuka.
Sekolah-sekolah kelas II untuk rakyat jelata.

Perbedaan Sekolah Kelas I dan Kelas II Antara Lain:
No
Faktor pembeda
Kelas I
Kelas II

1.
Tujuan
Untuk memenuhi kebutuhan pegawai pemerintah, perdagangan dan perusahaan.
Untuk memenuhi pegawai pengajar di kalangan rakyat umum

2.
Lama bersekolah
 5 tahun
3 tahun

3.
Mata pelajaran
Membaca, menulis, berhitung, ilmu bumi, sejarah, pengetahuan alam, menggambar, dan ilmu ukur.
Membaca, menulis, dan berhitung.

4.
Guru
Lulusan kweekschool
Kalangan biasa

5.
Bahasa pengantar
Bahasa daerah ( bahasa melayu)
Bahasa daerah ( bahasa melayu)


Pada tahun 1914 sekolah kelas I diubah mejadi HIS (Hollands Inlandse School) dengan bahasa pengantar bahasa Belanda sedangkan sekolah kelas II tetap atau disebut juga sekolah vervolg (sekolah sambungan) dan merupakan sekolah  lanjutan dari sekolah desa yang mulai didirikan sejak tahun 1907.

Politik Etika dan pengajaran
Indonesia yang kaya raya ini di eksploitasi terus menerus oleh penjajah Belanda. Keuntungan mengalir terus ke negeri Belanda. Rakyat Indonesia tetap miskin. Keadaan ini sangat menggelisahkan kaum Importir Belanda yang membawa barang hasil industri dari Eropa ke Indonesia. Mereka tidak dapat menjual barangnya karena daya beli masyarakat sangat rendah, sedangkan industri di negeri Belanda sedang pesat. Mereka menginginkan agar Indonesia yang banyak penduduknya itu menjadi pasar bagi industri Belanda. Sedangkan para eksportir mendapat laba besar dengan membawa barang mentah dari Indonesia. Untuk memenuhi kaum importir tidak ada jalan lain yang harus segera ditempuh selain memperbaiki dan mengubah ekonomi rakyat Indonesia yang sudah rusak.
Selain itu pada tahun 1899 terbit sebuah artikel oleh Van Devender berjudul “Hutang Kehormatan” dalam majalah De Gids. Disitu ia mengemukakan bahwa keuntungan yang diperoleh oleh Indonesia selama ini hendaknya dibayar kembali dari perbendaharaan Negara. Peristiwa itu dapat dipandang sebagai ekspresi ide yang baru kemudian dikenal dengan politik etika. Van Devender menganjurkan program ini untuk memajukan kesejahteraan rakyat dengan memperbaiki irigasi agar memprodusi pertanian, menganjurkan trasmigrasi dan perbaikan dalam lapangan pendidikan. Ia juga mengembangkan pengajaran bahasa Belanda secara kultural lebih maju dan dapat menjadi pelopor bagi bangsanya.
Faktor lain yang menyebabkan berlangsungnya politik etika ini ialah kebangkitan Nasional dengan berdirinya Budi Utomo pada tahun 1908, serikat islam partai politik pertama di Indonesia yang didasarkan atas organisasi Barat didirikan tahun 1919, adanya volksraad tahun 1918 yang merupakan saluran bagi orang Indonesia untuk menyatakan pendapatnya. Sejak dilaksanakannya politik etika tampak sekali kemajuan dalam pendidikan dengan diperbanyaknya sekolah rendah, sekolah yang berorientasi Barat untuk orang Cina dan Indonesia didirikan. Demikian juga pendidikan dikembangkan secara vertikal dengam didirikannya MULO dan AMS yang terbuka bagi anak Indonesia untuk melanjutkan ke tingkat universitas.
Dalam rangka memperbaiki pengajaran rendah bagi kaum bumi putra, maka pada tahun 1907 diambil dua tindakan penting yaitu:
Memberi corak dan sifat bangsa Belanda pada sekolah kelas I, misalnya:
Bahasa Belanda dijadikan mata pelajaran sejak kelas 3
Di kelas 6 bahasa Belanda dijadikan bahasa pengantar
Lama belajar menjadi 7 tahun
Murid-muridnya berasal dari anak-anak bangsawan dan terkemuka

Mendirikan Sekolah Desa
Maksud pemerintah untuk memperhatikan kepentingan rakyat Indonesia tidak tercapai, karena sekolah-sekolah bumi putra kelas II merupakan lembaga yang mahal dan memerlukan anggaran yang besar. Maka atas perintah Gubernur Jenderal Van Heutsz tahun 1907 didirikan sekolah-sekolah desa. Bangunannya didirikan oleh desa dan guru-gurunya juga diangkat oleh desa pula, jadi bukan pegawai negeri.
Jadi susunan pengajaran bagi anak-anak Indonesia untuk sekolah rendah ada tiga, yaitu:
Sekolah Desa, bagi anak-anak biasa
Sekolah kelas II, yang kemudian diubah menjadi sekolah Vervolg
Sekolah kelas I, yang sejak tahun 1914 dijadikan HIS bagi anak-anak bangsawan dan terkemuka.

Sistem Persekolahan Pada Zaman Pemerintahan Hindia Belanda
Secara umum sistem pendidikan khususnya sistem persekolahan didasarkan kepada golongan penduduk menurut keturunan atau lapisan (kelas) sosial yang ada dan menurut golongan kebangsaan yang berlaku waktu itu.
Pendidikan Rendah (Lager Onderwijs)
Pada hakikatnya pendidikan dasar untuk tingkatan sekolah dasar mempergunakan sistem pokok yaitu:
Sekolah rendah dengan bahasa pengantar bahasa Belanda.
Sekolah rendah Eropa, yaitu ELS (Europese Lagere school), yaitu sekolah rendah untuk anak-anak keturunan Eropa atau anak-anak turunan Timur asing  atau Bumi putra dari tokoh-tokoh terkemuka. Lamanya sekolah tujuh tahun. Pertama kali didiirikan pada tahun 1818.
Sekolah Cina Belanda, yaitu HCS (Hollands Chinese school), suatu sekolah rendah untuk anak-anak keturunan timur asing, khususnya keturunan Cina. Pertama didirikan pada tahun 1908 lama sekolah tujuh tahun.
Sekolah Bumi  putra Belanda HIS (Hollands inlandse school), yaitu sekolah rendah untuk golongan penduduk Indonesia asli. Pada umumnya disediakan untuk anak-anak golongan bangsawan, tokoh-tokoh terkemuka atau pegawai negeri. Lamanya sekolah tujuh tahun dan pertama didirikan pada tahun 1914.

Sekolah rendah dengan bahasa pengantar bahasa daerah
Sekolah Bumi Putra kelas II (Tweede klasee).
Sekolah ini disediakan untuk golonagan bumi putra. Lamaya sekolah tujuh tahun, pertama didirikan tahun 1892.
Sekolah Desa (Volksschool).
Disediakan bagi anak-anak golongan bumi putra. Lamanya sekolah tiga tahun yang pertama kali didirikan pada tahun 1907.
Sekolah Lanjutan (Vorvolgschool).
Lamanya bersekolah dua tahun dan merupakan kelanjutan dari sekolah desa, juga diperuntukkan bagi anak-anak golongan bumi putra. Pertama kali didirikan pada tahun 1914.


Sekolah Peralihan (Schakelschool)
Merupakan sekolah peralihan dari sekolah desa  (tiga tahun) kesekolah dasar dengan bahasa pengantar bahasa Belanda. Lama belajarnya lima tahun dan diperuntukan bagi anak-anak golongan bumi putra.

Disamping sekolah dasar diatas masih terdapat sekolah khusus untuk orang Ambon seperti Ambonsche Burgerschool yang pada tahun 1922 dijadikan HIS. Untuk anak dari golongan bangsawan disediakan sekolah dasar khusus yang disebut sekolah Raja (Hoofdensschool). Sekolah ini mula-mula didirikan di Tondano pada tahun 1865 dan 1872, tetapi kemudian diubah menjadi HIS.



Pendidikan Lanjutan atau  Pendidikan Menengah
MULO (Meer Uit gebreid lager school), sekolah tersebut adalah kelanjutan dari sekolah dasar yang berbahasa pengantar bahasa Belanda. Lama belajarnya tiga sampai empat tahun. Yang  pertama didirikan pada tahun 1914 dan diperuntukkan bagi golongan bumi putra dan timur asing. Sejak zaman jepang hingga sampai sekarang bernama SMP. Sebenarnya sejak tahun 1903 telah didirikan kursus MULO untuk anak-anak Belanda, lamanya dua tahun.
AMS (Algemene Middelbare School) adalah sekolah menengah umum kelanjutan dari MULO berbahasa Belanda dan diperuntukkan golongan bumi putra dan Timur asing. Lama belajarnya tiga tahun dan yang pertama didirikan tahun 1915. AMS ini terdiri dari dua jurusan (afdeling= bagian), Bagian A (pengetahuan kebudayaan) dan Bagian B (pengetahuan alam ) pada zaman jepang disebut sekolah menengah tinggi, dan sejak kemerdekaan disebut SMA.
HBS (Hoobere Burger School) atau sekolah warga Negara tinggi adalah sekolah menengah kelanjutan dari ELS yang disediakan untuk golongan Eropa, bangsawan golongan bumi putra atau tokoh-tokoh terkemuka. Bahasa pengantarnya adalah bahasa Belanda dan berorentasi ke Eropa Barat, khususnya didirikan oleh Belanda. Lama sekolahnya tiga tahun dan lima tahun. Didirikan pada tahun 1860

Pendidikan Kejuruan (Vokonderwijs )
Sebagai pelaksanaan politik etika pemerintah Belanda banyak mencurahkan perhatian pada pendidikan kejuruan. Jenis sekolah kejuruan yang ada  adalah sebagai berikut:
Sekolah pertukangan (Amachts leergang) yaitu sekolah berbahasa daerah  dan menerima sekolah lulusan bumi putra kelas III (lima tahun) atau sekolah lanjutan (vervolgschool). Sekolah ini didirikan bertujuan untuk mendidik tukang-tukang. Didirikan pada tahun 1881.
Sekolah pertukangan (Ambachts school) adalah sekolah pertukangan berbahasa pengantar Belanda dan lamanya sekolah tiga tahun menerima lulusan HIS, HCS  atau schakel. Bertujuan untuk mendidik dan mencetak mandor. Jurusanya antara lain montir mobil, mesin, listrik, kayu dan penata batu.
Sekolah teknik (Technish Onderwijs) adalah kelanjutan dari Ambachts school, berbahasa Belanda, lamanya sekolah 3 tahun. Sekolah tersebut bertujuan untuk mendidik tenaga kerja Indonesia untuk menjadi pengawas, semacam tenaga teknik menengah dibawah insinyur.
Pendidikan Dagang (Handels Onderwijs). Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan perusahaan Eropa yang berkembang dengan pesat.
Pendidikan pertanian (landbouw Onderwijs) pada tahun 1903 didirikan sekolah pertanian yang menerima lulusan sekolah dasar yang berbahasa penganatar Belanda. Pada tahun 1911 mulai didirikan sekolah pertanian (cultuur school) yang terdiri dari dua jurusan, pertanian dan kehutanan. Lama belajaranya sekitar 3-4 tahun, dan bertujuan untuk menghasilkan pengawas-pengawas pertanian dan kehutanan. Pada tahun 1911 didirikan pula sekolah pertanian menengah atas (Middelbare Landbouwschool) yang menerima lulusan MULO atau HBS yang lamanya belajar 3 tahun.
Pendidikan kejuruan kewanitaan (Meisjes Vakonderwijs). Pendidikan ini merupakan kejuruan yang termuda. Kemudian sekolah yang sejenis didirikan oleh swasta dinamakan Sekolah Rumah Tangga (Huishoud school). Lama belajarnya tiga tahun.
Pendidikan keguruan (Kweekschool). Lembaga keguruan ini adalah lembaga yang tertua dan sudah ada sejak permulaan abad ke-19. Sekolah guru negeri yang pertama didirikan pada tahun 1852 di Surakarta. Sebelum itu pemerintah telah menyelenggarakan kursus-kursus guru yang diberi nama Normal kursus yang dipersiapkan untuk menghasilkan guru-guru sekolah desa. Pada abad ke-20 terdapat tiga macam pendidikan guru, yaitu:
Normalschool, sekolah guru dengan masa pendidikan empat tahun dan menerima lulusan sekolah dasar lima tahun, berbahasa pengantar bahasa dearah.
Kweekschool, sekolah guru empat tahun yang menerima lulusan berbahasa belanda.
Hollandschool Indlandschool kweekschool, sekolah guru 6 tahun berbahasa pengantar Belada dan bertujuan menghasilkan guru HIS-HCS.

Pendidikan Tinggi (Hooger Onderwijs)
Karena terdesak oleh tenaga ahli, maka didirikanlah:
Sekolah Tehnik Tinggi (Technische Hoge School).
Sekolah Tehnik Tinggi ini yang diberi nama THS didirikan atas usaha yayasan pada tahun 1920 di Bandung. THS adalah sekolah Tinggi yang pertama di Indonesia, lama belajarnya lima tahun. Sekolah ini kemudian berubah menjadi ITB.
Sekolah Hakim Tinggi (Rechskundige Hoge school).
RHS didirikan pada tahun 1924 di Jakarta. Lama belajarnya 5 tahun, yang tamat AMS dapat diterima di RHS. Tamatan ini dijadikan jaksa atau hakim pada pengadilan.
Pendidiakn tinggi kedokteran.
Lembaga ini di Indonesia di mulai dari sekolah dasar lima tahun. Bahasa pengantarnya bahasa melayu. Pada tahun 1902 sekolah dokter jawa diubah menjadi STOVIA (School Tot Opleiding Voor Indische Artsen) yang menerima lulusan ELS, dan berbahasa pengantar Belanda. Lama belajarnya 7 tahun. Kemudian syarat penerimaannya ditingkatkan menjadi lulusan MULO. Pada tahun 1913 disamping STOVIA di Jakarta didirikan sekolah tinggi kedokteran (Geneeskundige Hogeschool) Yang lama belajaranya 6 tahun dan menerima lulusan AMS  dan HBS.


















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari rangkaian sejarah yang menjadi landasan historis pendidikan di Indonesia, kita dapat menyimpulkan bahwa masa-masa tersebut memiliki wawasan yang tidak jauh berbeda satu dengan yang lain. Mereka sama-sama menginginkan pendidikan bertujuan mengembangkan individu peserta didik. Dalam arti memberi kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan potensi mereka secara alami, dan demi kemajuan bangsa yang lebih baik. Sementara itu, pendidikan pada dasarnya hanya memberi bantuan dan layanan dengan menyiapkan segala sesuatunya. Sejarah juga menunjukkan betapa sulitnya perjuangan mengisi kemerdekaan dibandingkan dengan perjuangan mengusir penjajah.
Dengan demikian kami berharap hasil pendidikan dapat berupa ilmuwan, innovator, orang yang peduli dengan lingkungan serta mampu memperbaikinya, dan meningkatkan peradaban manusia.
Hal ini dikarenakan pendidikan selalu dinamis mencari yang baru, memperbaiki dan memajukan diri, agar tidak ketinggalan zaman, dan selalu berusaha menyongsong zaman yang akan datang.
B.     Saran
Sebagai calon pendidik atau orang yang akan berperan dalam dunia pendidikan, sudah sepatutnya mengetahui dan memahami sejarah perkembangan pendidikan di Indonesia. Dengan memahami historis tersebut, dimaksudkan agar calon pendidik beserta para instrument pendidikan lainnya, dapat menghindari kesalahan-kesalahan pada pendidikan yang terdahulu, sehingga tidak terulang kembali pada pendidikan yang akan datang. Sebaliknya, yakni dapat mempertahankan bahkan meningkatkan nilai-nilai pendidikan yang baik dan bermutu demi kemajuan pendidikan Indonesia. Dengan mewariskan, menggunakan karya dan pengalaman masa lampau, pendidikan menjadi pengawal, perantara, dan pemelihara peradaban.



DAFTAR PUSTAKA

Azhar. 2012. Kualitas Pendidikan di Indonesia. Diakses dari http://azharmind.blogspot.com/2012/02/kualitas-pendidikan-indonesia-ranking.html pada tanggal 21 Mei 2013.
Buchori, Mochtar (1995). Transformasi Pendidikan. Jakarta: IKIP Muhammadiyah Jakarta Press.
Dinas Pendidikan. 2013. Gambaran Umum Kondisi Pendidikan. Diakses dari http://disdikbatam.org/dinas/renstra6-Gambaran-Umum-Kondisi-Pendidikan.html pada tanggal 21 Mei 2013.
Djumhur,Sejarah Pendidikan, CV. Ilmu, Bandung, 1979
Drs.Ary H. Gunawan, kebijakan-kebijakan pendidikan di Indonesia, Bina Aksara, Jakarta,1986,
Mahierra. 2011. Kondisi Pendidikan di Indonesia. Diakses dari http://mahierra.wordpress.com/2011/12/06/kondisi-pendidikan-di-indonesia/ pada tanggal 2 Mei 2013.
Mudyahardjo, Redja (2008). Pengantar Pendidikan: Sebuah Studi Awal tentang Dasar-Dasar Pendidikan pada Umumnya dan Pendidikan di indonesia. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Nasution, S. (2008). Sejarah Pendidikan Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
Pidarta, Made (2007). Landasan Pendidikan: Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Prof. Dr. H. Afifuddin,2007. Sejarah Pendidikan. Prosfect: Bandung
Prof. Dr. S. Nasution, 1995. Sejarah Pendidikan Nasional. Bumi Aksara: Jakarta